Tuesday, November 20, 2012

Arti Hadist

Kata "Hadist" atau al hadist menurut bahasa berarti al jadid(sesuatu yang baru), lawan kata dari al qadim (sesuatu yang lama). Kata hadist juga berarti al-khabar(berita), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Kata jamaknya ialah al ahadist. Dari sudut pendekatan kebahasaan ini, kata Hadist dipergunakan, baik dalam AL Qur'an maupun Hadist itu sendiri Dalam al Qur'an misalnya dapat dilihat pada surah Ath Thur ayat 34, surat al Kahfi ayat 6 dan Adh-Dhuha ayat 11. Kemudian pada Hadist dapat dilihat pada beberapa sabda Rasul SAW, diantaranya dari Zaid bin Tsabit riwayat Abu Dawud,At-Tirmidzi dan Ahmad yang menjelaskan do'a Rasulullah SAW thd orang yang menghapal dan menyampaikan suatu HAdist daripadanya (lihat Sunan Abu Dawud Jilid II ,Beirut,1990M/1410H hlm 179). Secara terminologis, ahli Hadist dan ahli Ushul berbeda pendapat dalam memberikan pengertian ttg Hadist. Dikalanagan ulama ahli Hadist sendiri ada beberpa definisi yang antara satu sama lainnya agak berbeda. misalnya : "Segala perkataan Nabi SAW,perbuatan dan hal ikhwalnya". yang termasuk hal ikhwal ialah segala pemberitaan ttg Nabi SAW,seperti yang berkaitan dengaan himmah,karakteristik,sejarah,kelahiran dan kebiasaan kebiasaannya. Ulama ahli hadist lainnya merumuskan dengan : "Segala sesuatu yang bersumber dari NAbi SAW,baik berupa perkataan,perbuatan,taqrir,maupun sifatnya" (Muhammad Ash Shabag hlm 14) Ada juga yang mendefinisikan dengan : "Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa perkataan,perbuatan,taqrir,maupun sifatnya" (al-Qasimi hlm 16 dan At Tirmizi,Manhaj Dzawi an Nazhar,Dar al-Fikr,Beirut,1974 hlm 8) Sementara itu para ahli Ushul memberikan definisi Hadist yang lebih terbatas dari rumusan diatas. Menurut mereka Hadist adalah: "Segala perkataan nabi SAW yang dapat dijadikan dalil untuk penetapan hukum syara'". (Ajjaj al Khatib, Ushul,hlm 27) Dengan pengertian ini,segala perkataan atau aqwal Nabi SAW yang tidak ada relevansinya dengan hukum atau tidak mengandung missi kerasullannya,spt ttg cara berpakaian, berbicara,tidur,makan,minum atau segala hal yang menyangkut hal ikhwal Nabi,tidak termasuk Hadist. Selain istilah Hadist terdapat istilah Sunnah,Khabar dan Atsar. Terhadap ketiga istilah tersebut diantara para ulama ada yang sependapat ada juga yang berbeda pendapat seperti : Pengertian Sunnah Menurut bahsa Sunnah berarti : "Jalan dan kebiasaan yang baik atau yang jelek" (Nur Ad-din 'Atar,Manhaj an Naqdi di'Ulum al Hadist hlm 27) "Jalan yang dijalani baik yang terpuji atau tercela" ada juga "Jalan yang lurus atau benar" Berkaitan dengan pengertian dari sudut kebahasaan ini, Rasulullah bersabda dalam suatu hadist lihat di (Shahih Muslim Syarah An-Nawawi, Juz II,Mathaba'ah al Misriyah,kairo 1349 hlm 705) Berbeda dengan pengertian kebahasaan diatas,dalam al Qur'an kata sunnah mengacu pada arti"Ketetapan atau hukum Allah" hal ini dapat dilihat dalam Surat al kahfi ayat 55,al isra ayat 77,al anfal ayat 38,al Hijr ayat 13,al ahzab ayat 38,62,al Fathir ayat 43 dan Al Mukmin ayat 85. Adapun sunnah menurut istilah sebagaimana dalam mendefinisikan hadist dikalangan ulama terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mengartikannya sama dengan hadist, dan ada juga yang mengartikannya berbeda,bahkan ada yang memberikan syarat-syarat tertentu, yang berbeda dengan istilah hadist. Pengertian sunna menurut ahli hadist : "Segala yang bersumber dari Nabi SAW baik berupa perkataan,perbuatan,taqrir,tabiat,budi pekerti,atau perjalanan hidupnya,baik sebelum diangkat menjadi Rasul,seperti ketika bersendiri di gua Hira maupun sesudahnya"(Abbas Mutawali Hamadh, As Sunnah An Nabawiyah wa Makanatuh di at-Tasyri' Dar al-Qaumiyah,kairo hlm 23) Menurut pengertian ini kata sunnah berarti sama dengan kata hadist dalam perngertian terbatas atau sempit,sebagaimana dirumuskan oleh sebagian ulama ahli Hadist diatas. Dengan demikian jumlah Sunnah secara kuantatif jauh lebih banyak di banding kata sunnah menurut para ahli Ushul. Para ulama yang medefinisikan Sunnah sebagaimana diatas,mereka memandang diri Rasul SAW sebagai uswatun hasanah atau qudwah (contoh atau teladan) yang paling sempurna, bukan sebagai sumber hukum. Oleh karena itu mereka menerima dan meriwayatkannya secara utuh segala berita yang diterima ttg diri Rasul SAW tanpa membedakan apakah yang diberitakan itu isinya berkaitan dengan penetapan hukum syara' atau tidak. Begitu pula mereka tidak melakukan pemilahan untuk keperluan tersebut, apakah ucapannya atau perbuatannya itu dilakukan sebelum menjadi Rasul SAW atau sesudahnya. Dalam pandangan mereka apa saja tentang diri Rasul SAW sebelum atau sesudah diangkat menjadi Rasul adalah sama saja. Pandangan demikian itu didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surat al-ahzab ayat 21 yang berbunyi : "Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu)bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak menyebut nama Allah" dalam surat as Syura ayat 52-53 juga disebutkan Berbeda dengan ahli hadist,ahli ushul mendefinisikan Sunnah dengan: "Segala sesuatu yang bersumber dari NAbi SAW selain al Qur'an al-Karim baik berupa perkataan,perbuatan,maupun taqrirnya yang pantas untuk dijadikan dalil bagi penetapan hukum syara" (Ajjaj al Khatib,Ushul hlm 19) Definisi menurut ahli ushul tadi membatasi pegertian sunnah hanya pada suatu yang disandarkan atau yang bersumber dari Nabi SAW yang ada relevansinya dengan penetapan hukum syara'. Maka segala sifat perilaku,dejarah hidup dn segala seustau yang sandarannya kepada Nabi SAW yang tidak ada relevansinya dengan hukum syara' tidak dapat dikatakan Sunnah. Dengan definisi ini, secara kuantatif jumlah Sunnah lebih terbats jika dibandingkan dengan Jumlah Sunnah menurut ahli Hadist. Pengertian ahli Ushul tadi didasarkan pada argumentasi bahwa Rasulullah SAW adalah penentu atau pengatur undang-undang yang menerangkan kepada manusia tentang aturan-aturan kehidupan (dustur al-hayat), dan meletakan dasar2 metodologis atau kaidah-kaidah bagi para mujtahid yang hidup sesudahnya dalam menjelaskan dan menggali syariat islam. Maka segala pemberitaan tentang Rasul yang tidak mengandung atau tidak menggambarkan adanya ketentuan syara' tidak dapat dikatakan Sunnah. Hal ini mengacu pada beberapa ayat Al Qur'an antara lain surat Al Hasyr ayat 7 : "...Apa yang diberikan Rasulullah SAW kepadamu,maka terimalah dia dan apa-apa yang dilarangnya bagimu,makatinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah,sesungguhnya Allah sangat keras Hukum-Nya" Dalam surat an Nahl ayat 44 Allah menjelaskan bahwa al Qur'an diturunkan kepada NAbi SAW untuk dijelaskan kepada segenap manusia ttg segala isinya. Adapun Sunnah menurut ahli Fiqh ialah : "Segala ketetapan yang berasal dari Nabi SAW selain yang difardukan dan diwajibkan. Menurut mereka,sunnah merupakan salah satu hukum yang lima" (Musthafa as Siba'i ,As Sunnah wa makanatuha hlm 54) Pengertian khabar dan Atsar Kata khabar menurut bahasa adalah segala berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Dari sudut pendekatan bahasa ini kata khabar sama artinya dengan hadist. Menurut Ibn hajar al Asqalani, sebagaimana yang dikutip oleh as Suyuthi,ulama yang mendefinisikan Hadist secara luas memandang bahwa istilah hadist sama dengan khabar. keduanya dapat dipakai untuk sesuatu yang Marfu',mauquf dan Maqthu. (Jalal Ad-Din bin Abi bakar as Suyuthi, tadrib ar Rawi fi syarh taqrib an Nawawi Juz I hlm 42), demikian pula yang dikatakan Tirmizi. Ulama lain mengatakan khabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi SAW dedang yang datang dari NAbi SAW disebut Hadist. Ada juga yang mengatakan bahwa Hadist lebih umum dari khabar. Pada keduanya berlaku kaidah 'umumun wa khushnushun mutlaq, yaitu bahwa tiap2 hadist dapat dikatakan khabar tetapi tidak setiap khabar dikatakan hadist. (As Suyuthi) ATSAR menurutkan pada pendekatan bahasa juga sama artinya dengan khabar,hadist dan sunnah (At Tirmizi).Sedangkan menurut istilah..disini terjadi perbedaan pendapat diantara ulama. Ahli hadist mengatakan bahwa Atsar sama dengan khabar. sedangkan menurut ulama khurasan bahwa Atsar untuk yang mauquf dan khabar untuk yang marfu' (Ajjaj al-Khatib,Ushul)

1 comment: